Categories
Uncategorized

WORKSHOP ORIENTASI PEMBIMBINGAN AKADEMIK MAHASISWA (OPAM) UPT BIMBINGAN KONSELING DAN PEMBINAAN KARIR UNIVERSITAS MATARAM

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Visi Unram adalah “Menjadi Lembaga Pendidikan Tinggi Berbasis Riset Berdaya Saing Internasional tahun 2025”,  untuk mencapai misi tersebut salah satu misinya adalah membangun jaringan kerjasama yang luas dengan berbagai pihak instansi pemerintah dan swasta, di dalam dan luar negeri, dalam rangka untuk mendukung pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yang berstandar mutu nasional dan internasional.

Untuk mencapai visi dan misi tersebut, telah banyak dilakukan oleh Universitas Mataram, baik internal maupun eksternal, sisi internal adalah mengembangan SDM, sarana prasasana maupun kurikulum serta kelembagaan. Dengan pihak eksternal menjalin kerjasama.. dengan pihak dalam negeri maupun pihak luar negeri, pihak dunia usaha dan industry  maupun dengan pihak pemerintah, disamping juga   kerjasama dengan para alumni

Dalam rangka mengimplementasikan visi dan misi diatas telah terbentuk Unit Pelaksana  Teknis Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir (UPT BKPK), melalui lembaga Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir diharapkan dapat memfasilitasi upaya peningkatan kebekerjaan (employability) lulusan, hal ini  juga sebagai  bentuk tanggung jawab Unram kepada masyarakat dalam hal relevansi outcome pendidikan tinggi. Lulusan yang berhasil dan secara profesional sukses  dalam karir yang pada saatnya akan menjadi salah satu aset utama Universitas Mataram yang  bermuara kepada kebermaknaan dalam berkontribusi kepada  masyarakat luas.

Untuk memperkuat kedudukan lembaga dan Sesuai dengan Organisasi dan Tata Kerja (OTK) Universitas Mataram maka dikeluarkan Surat Keputusan  Rektor  nomor  5321/UN18/HK/2018 tanggal  18 Agustus 2018 tentang struktur Organisasi menjadi UPT  Bimbingan Koseling dan Pembinaan Karir, dan Surat Keputusan Rektor nomor  8060/UN18/HK/2018 tanggal  5 Desember 2018 tentang susunan pengurus tahun 2019.

Sebagai lembaga baru UPT Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir harus dapat menunjukkan eksistensinya dengan membuat rencana program dan melaksanakan program yang sesuai dengan keberadaannya dan tuntutan para pengguna, yaitu adanya suatu layanan  konsultasi, bimbingan dan layanan pelatihan yang prima, serta harus memahami keberadaan para alumninya melalui penelusuran alumni (tracer study).

Guna memenuhi kebutuhan tersebut di atas maka pada tahun 2019 ini UPT Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir Universitas Mataram akan mengadakan sejumlah kegiatan sesuai dengan tupoksinya. Salah satunya yaitu: Workshop Orientasi Pembimbingan Akademik Mahasiswa (OPAM)

1.2 Tujuan Workshop OPAM

  1. 1. Memberi pengetahuan kepada dosen-dosen muda Unram tentang berbagai materi  bimbingan kepada mahasiswa.
  2. 2. Memberi pelatihan dan ketrampilan tetang bagaimana cara-cara yang praktis dan operasional dalam membimbing mahasiswa. Dengan kata lain, bimbingan tidak hanya diberikan kepada mahasiswa yang mau berkonsultasi KRS tetapi lebih dari itu menyentuh berbagai permasalahan mahasiswa yang bersifat pribadi (masalah belajar, social, diri dan karir).

1.3 Manfaat Kegiatan Workshop OPAM

Setelah kegiatan OPAM dilakukan, diharapkan memiliki manfaat yang sifatnya langsung (bagi dosen sebagai peserta dan tidak langsung (bagi mahasiswa penerima akhir layanan bimbingan), dan Lembaga UPT BKPK Unram.

  1. 1. Manfaat langsung ialah bagi dosen-dosen muda (sebagai peserta OPAM) diharapkan akan dapat mengambil pelajaran dari kegiatan ini, sehingga pengetahuan, sikap dan keterampilan mereka dalam membimbing mahasiswa akan bertambah.
  2. 2. Manfaat tidak langsung, ialah bagi mahasiswa sebagi pihak akhir penerima layanan bimbingan akan merasa tervasilitasi dan terlayani oleh pihak yang lebih kompeten dalam layanan bimbingan. Sehingga jika mahasiswa mengalami masalah dan memperoleh bantuan dari ahlinya dalam memecahkan masalah diharapkan mahasiswa akan berkembang yang optimal, termasuk prestasi akademiknya akan makin meningkat.
  3. 3. Manfaat tidak langsung, dilihat dari aspek kelembagaan, dalam hal ini UPT BKPK Unram. Diharapkan akan terjadi kerjasama antara dosen dan UPT BKPK Unram. Dengan kata lain, diharapkan para dosen muda akan memanfaatkan UPT BKPK Unram sebagai tempat merujuk (mereferal) mahasiswa yang bermasalah jika dalam melaksanakan bimbingan kurang berhasil dan membutuhkan tenaga ahli professional bimbingan (konselor).

PELAKSANAAN

2.1.  Waktu dan Tempat

Kegiatan  dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada hari Jum’at, 13 September 2019  dan Sabtu, 14 September  2019 bertempat di ruang sidang UPT. BKPK Universitas Mataram, yang dilanjutkan dengan kegiatan demonstasi, dengan jadwal sebagai berikut:

Jadwal Workshop Orientasi Pembimbingan Akademik Mahasiswa (OPAM) UPT Bimbingan Konseling Dan Pembinaan Karir Universitas Mataram tahun 2019

HARI/TANGGAL/JAM MATERI POKOK FASILITATOR MODERATOR
Jumat, 13 September 2019  
07.30 – 08.00 Registrasi Peserta Panitia  
08.00 – 09.00 Sambutan-sambutan :

 

1.    Ketua Panitia Pelaksana

2.    Rektor Universitas Mataram

( sekaligus membuka kegiatan workshop)

   
09.00 – 11.00 Materi: Kepenasehatan Akademik Prof. Dr. H.M. Natsir, SH., M.Hum. Dr. M. Firmansyah, SE., M.Si
11.00 – 14.00 Ishoma    
14.00 – 16.00 Materi: Teknik Memahami Perilaku Mahasiswa Pujiarohman, S.Psi., M.Psi., Psikolog Dr. Siti Aisyah Hidayati, SE., MSi
Sabtu, 14 September 2019  
08.00 – 10.00 Materi: Permasalahan yang Dihadapi dalam Pembmbingan Akademik Drs. I Ketut Widiada, M.Pd. Drs. Alamsyah Ab., MP.
10.00 – 12.00 Materi: Teknik Berkomunikasi dengan Mahasiswa Dr. H.A. Hari Witono, M.Pd. Drs. Alamsyah Ab., MP.
12.00 – 14.00 Ishoma    
14.00 – 16.00 Demonstrasi/Peragaan Dr. H.A. Hari Witono, M.Pd. Dr. H.A. Hari Witono, M.Pd.
16.00 – Selesai Penutupan    
         

2.2 Peserta

Peserta kegiatan ini adalah dosen yang berpangkat Asisten Ahli   di semua fakultas dan Prodi dibawah rektor yang ada di Universitas Mataram. Daftar hadir peserta tertera di lampiran 2.

2.3 Materi Workshop

 Materi Workshop yang diberikan yaitu:

  1. Kepenasehatan Akademik
  2. Teknik Memahami Perilaku Mahasiswa
  3. Permasalahan yang DIhadapi dalam Pembimbingan Akademik
  4. Teknik Berkomunikasi dengan Mahasiswa

2.4. Metode Penyampaian Materi

Workshop ini menggunakan metode penyampaian materi dalam bentuk ceramah, disukusi dan demonstrasi.

2.5 Panitia dan Narasumber

Panitia pelaksana Workshop Orientasi Pembimbingan Mahasiswa (OPAM) sesuai dengan SK Rektor Unram Nomor ………………sebagaimana dalam lampiran 3, sedangkan narasumber workshop ini adalah dari Wakil Rektor III dan pengurus/pengelola UPT Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir Universitas Mataram,  sebagai berikut:

  1. Dr. H. M. Natsir, SH., M.Hum. (WR III Unram)
  2. H. A. Hariwitono, M.Pd.
  3. I Ketut Widiada, M.Pd.
  4. Pujiarohman, S.Psi., M.Psi., Psikolog

2.6 Anggaran Kegiatan

Anggaran yang diajukan dalam Workshop OPAM ini, bersumber dari PNBP Unram tahun 2019 yang pada prinsipnya mengacu pada komponen  kegiatan/aktivitas dan barang yang perlu didanai. Jumlah secara keseluruhan nominalnya adalah Rp 16.321.000,-  (enambelas juta tigaratus duapuluh satu ribu  rupiah). Secara terperinci  dapat dirangkum sebagaimana disajikan dalam lampiran 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Isi Sambutan Sekaligus Membuka Acara Workshop OPAM Oleh Rektor Unram Yang Diwakili Oleh Wakil Rektor I

    • Pentingnya workshop ini bagi dosen dalam rangka pembimbingan akademik mahasiswa untuk mendukung proses perkuliahan di kampus. Permasalahan yang timbul pada diri mahasiswa tidak hanya bekaitan dengan faktor akademisnya saja tapi seringkali juga dengan masalah-masalah non akademis, seperti masalah keluarga, teman dekat dan lain sebagainya.
    • Penerapan sistem perkuliahan dengan menggunakan  DARING akan segera dilakukan. Pengenalan sistem ini kepada dosen dilakukan secara bertahap, melalui workshop metode pembelajaran dalam rangka  revolusi industri 4.0.

2. Materi Kepenasehatan Akademik Oleh Dr. H. M. Natsir, SH., M.Hum. (WR III Unram)

            Kepenasahatan Akademik dalah segala macam usaha Penasehat Akademik untuk membimbing mahasiswa agar dapat menyelesaikan studinya dengan baik.
Penasehat Akademik adalah Dosen Tetap dengan jabatan minimal Asisten Ahli Madya dengan tugas:

  1. Membantu mahasiswa dalam menyusun perencanaan studi.
  2. Memberikan pengarahan secara tepat kepada mahasiswa bimbingannya dalam menyusun rencana studi yang akan dilaksanakan setiap semester.
  3. Membimbing mahasiswa dalam mengatasi masalah-masalah belajar/studi yang dialami.
  4. . Membimbing mahasiswa dalam mengatasi masalah-masalah belajar/studi yang dialami
  5. Memberikan rekomendasi kepada mahasiswa mengenai urusan yang berkaitan dengan masalah akademik.

Setiap awal semester Penasehat Akademik berkewajiban melaksanakan tugas kepanesahatan pada waktu dan tempat yang telah dijadwalkan untuk:

  1. Memproses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) dan bertanggungjawab atas kebenaran isinya.
  2. Menetapkan jumlah kredit yang boleh diambil sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  3. Meneliti dan memberi persetujuan terhadap rencana program semester yang bersangkutan yang disusun oleh mahasiswa dalam KRS.

3. Materi Teknik Memahami Perilaku Mahasiswa Oleh Pujiarohman, S.Psi., M.Psi., Psikolog

  1. Tahapan Perkembangan Manusia : Manusia akan terus berkembang, namun satu tahapan perkembangan tidak terpenuhi dengan baik maka akan berdampak pada tahapan perkembangan selanjutnya.
  • Tahap prenatal
  • Tahap masa hidup: Masa anak, masa remaja, masa dewasa, masa lansia

2. Macam-macam Perkembangan :

  • Perkembangan Sosial
  • Perkembangan Moral
  • Perkembangan seksual
  • Perkembangan Emosi

3. Pola Asuh dalam Keluarga :

  • Pola Asuh Demokratis
  • Pola Asuh Permisif
  • Pola Asuh Otoriter

4. Perilaku dipengaruhi oleh Otak dan stress yang ada pada diri mahasiswa

5. Komunikasi :

Komunikasi secara umum dipahami sebagai proses transfer informasi dari satu pihak ke pihak lainnya. Informasi dapat berupa: ide, opini, data, fakta, value (nilai), perasaan–nearly everything. Komunikasi paling dasar yang menjadi landasan dari aneka komunikasi lainnya adalah: komunikasi dengan diri sendiri – intrapersonal communication

4. Materi: Permasalahan yang Dihadapi dalam Pembmbingan Akademik Oleh Drs. I Ketut Widiada, M.Pd.

                 Menurut Steven  & Howard (Uno, 2006) lembaga pendidikan tinggi dalam tugasnya mendidik generasi muda bangsa menyelesaikan tahapan hakhir perkembangan mentalnya melalui pendidikan  pendidikan tinggi untuk mengembangkan kondisi serta  rangkaian peristiwa pembelajaran yang dapat memudahkan orang belajar dengan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

  1. Ranah Intrapribadi (inner-self) sebagai aspek batiniah dalam bentuk kemampuan untuk mengenal kesadaran diri, sikap asertif: kemampuan menyampaikan pikiran, kemandirian yakni kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dengan kaki sendiri.
  2. Ranah Antar Pribadi berkaitan dengan ketrampilan bergaul yang berkaitan dengan membentuk rasa tanggung jawab dan mampu menunjukkan peran diri dalam kehidupan sosial. Ranah ini meliputi: (1) empati: kemampuan memahami kemampuan dan perasaan orang lain, (2) Tanggung jawab sosial: kemampuan untuk hidup di masyarakat dan bekerja sama dengan orang lain, (3) Hubungan antar peribadi: kemampuan untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan yang saling memberi dan menerima.
  3. Ranah Penyesuaian Diri: kemampuan bersikap realistic untuk memecahkan berbagai masalah dengan memahami, dan menghadapi berbagai konflik di kampus maupun di luar kampus. Hal ini meliputi tiga ranah: Uji realitas yaitu kemampuan menilai sesuatu secara obyektif menuju pada persepsi yang sebenarnya; Sikap Fleksibel: kemampuan menyesuaikan perasaan, fikiran dan tindakan; Pemecahan masalah yaitu kemampuan untuk mendefinisikan permasalahan untuk menemukan pemecahan yang tepat.Langkah-Langkahnya adalah: memahami masalah untuk memecahkan masalah, b. menentukan dan merumuskan masalah secara jelas, c. menemukan sebanyak mungkin alternative pemecahan, 4. Mengambil keputusan, 5. Menilai alternative pemecahan, 6. Mengulang proses pemecahan masalah dengan hati-hati, disiplin dan sistematik.
  4. Ranah Pengendalian Stres: kemampuan menghadapi stress dan emosi, agar tidak kehilangan kendali. Ini meliputi dua skala yang meliputi pertahanan diri yakni menunjukkan sikap optimis dan kemampuan untuk menunda dorongan sebagai godaan.
  5. Ranah Suasana Hati Umum: berhubungan dengan suasana hati. Ranah ini memiliki dua skala; Optimisme yaitu kemampuan mempertahankan sikap positif dan kebahagian: rasa senang dan gembira.

5. Materi: Teknik Berkomunikasi dengan Mahasiswa Oleh: H.A. Hari Witono, M.Pd.

Konseling menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengarahan atau pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya. Makna lain konseling  adalah penyuluhan atau pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah.

Adapun tujuan konseling adalah untuk merubah tingkah laku konseli sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh konseli. Untuk menunjang tujuan tersebut, konselor biasanya melakukan berbagai macam hal untuk memfasilitasi dan memberikan dukungan kepada konseli, bersama-sama dengan konseli membuat berbagai alternatif pemecahan masalah demi perubahan ke arah yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam konseling.

Dari pengertian dan tujuan konseling tersebut, terlihat bahwa konseling adalah suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh seorang konselor yang memiliki kemampuan profesional dalam menangani  berbagai permasalahan yang berkaitan erat dengan keputusan pribadi, sosial, karier, dan pendidikan serta memahami berbagai proses psikis maupun dinamika perilaku pada diri konseli. Konseling kerapkali melibatkan interaksi dan komunikasi antara konselor dan konseli baik secara verbal maupun nonverbal. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebagai proses komunikasi antara konselor dan konseli, konseling umumnya melibatkan kemampuan konselor dalam menangkap pesan yang disampaikan oleh konseli dan mengkomunikasikannya kembali kepada konseli.

Kemampuan konselor ini mencakup beberapa teknik komunikasi dalam konseling. Teknik-teknik komunikasi dalam konseling ini harus terus dipelajari dan dilatih oleh konselor agar proses komunikasi dalam konseling berlangsung dengan efektif.

Adapun beberapa teknik komunikasi dalam konseling yang perlu dikuasai oleh konselor, di antaranya adalah :

1. Menghampiri konseli

Menghampiri mengacu pada cara agar konselor dapat bersama dengan konseli baik secara fisik maupun psikologis. Karakteristik perilaku menghampiri yang efektif adalah mengatakan kepada konseli bahwa konselor ada bersama mereka sehingga mereka dapat berbagai cerita kepada konselor. Selain itu, karakteristik perilaku menghampiri yang efektif lainnya adalah menempatkan konselor pada posisi untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh konseli.

Contoh perilaku menghampiri di antaranya adalah menganggukan kepala tanda setuju, menunjukkan ekspresi wajah tenang dan tersenyum, posisi tubuh yang condong ke arah konseli, jarak yang sesuai antara konselor dan konseli, dan mendengarkan dengan aktif

2. Mendengarkan dengan aktif

Mendengarkan mengacu pada kemampuan konselor untuk menangkap dan memahami pesan yang dikomunikasikan oleh konseli, baik pesan verbal maupun pesan nonverbal. Mendengarkan dengan aktif umumnya memerlukan keterampilan lain seperti mendengarkan dan memahami pesan verbal yang disampaikan oleh konseli, mendengarkan dan menafsirkan pesan nonverbal yang disampaikan oleh konseli, mendengarkan dan memahami konseli dalam konteks tertentu, dan mendengarkan dengan empati.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor di antaranya adalah menghindari distraksi, menyiapkan diri secara psikologis untuk mendengarkan, tetap bersikap terbuka, berpikir analisis, mengidentifikasi argument dan fakta yang mendukung, bersikap objektif, dan lain-lain.

3. Bersikap empati

Empati adalah kemampuan konselor untuk mengenal dan mengakui perasaan konseli tanpa harus mengalami emosi yang sama dengan yang dialami konseli. Empati merupakan upaya yang dilakukan oleh konselor untuk memahami dunia konseli. Empati dilakukan dengan cara mendengarkan konseli dengan penuh perhatian, memahami konseli serta memahami apa yang menjadi perhatian konseli. Pemahaman mengenai dunia konseli kemudian harus dibagi dengan konseli melalui pernyataan baik secara verbal maupun nonverbal.

4. Menangkap pesan

Teknik komunikasi dalam koseling selanjutnya adalah menangkap pesan. Menangkap pesan adalah suatu teknik komunikasi yang digunakan untuk menyatakan kembali apa yang disampaikan oleh klien terkait dengan permasalahan yang dihadapi. Tujuan teknik ini adalah untuk mengatakan kembali kepada konseli bahwa konselor memahami apa yang disampaikan oleh konseli serta mengendapkan apa yang telah disampaikan oleh konseli dalam bentuk ringkasan, memberi arah wawancara konseling, dan memeriksa kembali persepsi konselor tentang apa yang diungkapkan oleh konseli

5. Memberikan pertanyaan

Agar konseli bersedia mengungkapkan apa yang ia pikirkan, rasakan, dan alami kepada konselor maka konselor dapat memberikan pertanyaan kepada konseli dalam bentuk pertanyaan terbuka maupun pertanyaan tertutup. Tujuan konselor memberikan pertanyaan adalah untuk mendorong konseli untuk tidak menggunakan komunikasi asertif ketika hendak mengekspresikan dirinya, membantu konseli agar kembali fokus pada permasalahan, membantu konseli untuk mengidentifikasi kembali pengalaman atau perilaku atau perasaan yang hilang dari diri konseli, membantu konseli untuk terus berusaha, dan membantu konseli untuk memahami dirinya sendiri dan situasi permasalahan yang sedang dihadapi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor ketika memberikan pertanyaan kepada konseli adalah memperhatikan situasi kondisi konseling dan konseli; menguasai materi yang berhubungan erat dengan pertanyaan; mengajukan pertanyaan secara jelas, terarah, dan tidak keluar dari topik permasalahan, dan segera memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang disampaikan dengan baik dan simpatik.

6. Memberikan dorongan minimal

Dalam konseling, konselor adakalanya perlu memberikan semacam dorongan minimal terhadap apa yang disampaikan oleh konseli. Tujuan pemberian dorongan minimal ini adalah agar konseli dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya dan memberikan arahan kepada konseli agar tujuan pembicaraan dapat tercapai. Waktu yang tepat untuk memberikan dorongan minimal ini adalah saat konseli menghentikan pembicaraannya atau saat konseli kurang fokus pada apa yang dibicarakan atau saat konselor merasa ragu dengan apa yang disampaikan oleh konseli.

7. Memberikan arahan kepada konseli

Teknik komunikasi dalam konseling lainnya yang dapat diterapkan oleh konselor adalah mengarahkan konseli atau memberikan arahan kepada konseli. Maksudnya adalah konselor mengajak dan mengarahkan konseli untuk melakukan sesuatu misalnya bermain peran atau membayangkan sesuatu.

8. Menyimpulkan sementara

Adakalanya konselor perlu untuk menyimpulkan sementara apa yang telah dibicarakan dengan konseli agar nantinya arah pembicaraan menjadi semakin jelas. Tujuan dilakukannya penyimpulan sementara adalah memberikan kesempatan kepada konseli untuk melihat kembali apa yang telah dibicarakan, mencegah konseli mengulang apa yang telah dikatakan, memberikan arah kepada konseli, membantu klien untuk mengidentifikasi bagian yang hilang dari kisah yang disampaikan kepada konselor, dan membantu agar konselor dan konseli lebih fokus pada konseli

9. Memimpin jalannya konseling

Teknik komunikasi dalam konseling berikutnya adalah mempin jalannya konseling. Konselor juga dapat menggunakan teknik ini selama berlangsungnya proses konseling. Teknik memimpin adalah teknik dalam konseling guna mengarahkan atau memimpin jalannya konseling agar maksud dan tujuan konseling dapat terlihat dengan jelas. Pada umumnya, teknik ini disebut juga dengan teknik bertanya karena dalam penerapannya kerap menggunakan kalimat Tanya.  Selama proses konseling, konselor dapat menggunakan teknik ini sebagai alat bantu bagi konseli untuk lebih fokus pada topik pembicaraan.

Hal ini perlu dilakukan mengingat saat konseling biasanya konseli akan menyampaikan sejumlah permasalahan yang tengah dihadapi kepada konselor. Untuk itu, konselor hendaknya dapat membantu konseli agar fokus pada permasalahan tertentu yang lebih penting.

10. Konfrontasi

Teknik komunikasi dalam konseling berikutnya adalah konfrontasi. Teknik konfrontasi adalah teknik menantang konseli yang diterapkan oleh konselor manakala konselor melihat adanya ketidakkonsistenan antara apa yang disampaikan oleh konseli dengan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya, dan lain-lain.

Tujuan digunakannya teknik konfrontasi dalam konseling adalah untuk mendorong konseli agar lebih jujur tentang dirinya sendiri.  Teknik konfrontasi perlu dilakukan dengan hati-hati dengan cara melihat waktu dan saat yang tepat, tidak menyalahkan konseli, dilakukan dengan perilaku menghampiri dan empati.

11. Menjelaskan kata-kata yang kurang jelas atau meragukan

Jika saat konseling terdapat kata-kata konseli yang dirasa kurang jelas atau meragukan bagi konselor, konselor dapat menggunakan teknik ini untuk menjelaskan atau mengklarifikasi kata-kata yang kurang jelas atau meragukan tersebut.

Tujuan diterapkannya teknik ini adalah untuk mengajak konseli agar menyampaikan pesan dengan jelas dan logis. Teknik ini dilakukan oleh konselor dengan menggunakan kata-kata pendahuluan seperti pada intinya, pada pokonya, dengan kata lain, singkat kata, dan lain sebagainya.

12. Merefleksikan perasan

Teknik berikutnya yang kerap diterapkan dalam konseling adalah teknik merefleksikan perasaan. Teknik ini digunakan konselor untuk memantulkan kembali perasaan atau sikap yang terkandung di balik pernyataan konseli.

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan kata-kata pendahuluan seperti agaknya, sepertinya, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor yaitu menghindari stereotip, memilih waktu yang tepat untuk menanggapi pernyataan konseli, menggunakan kata-kata yang tepat  enggambarkan perasaan atau sikap konseli, dan menyesuaikan bahasa yang tepat atau sesuai dengan konseli.

13. Diam

Diam adalah salah satu teknik komunikasi dalam konseling yang ditandai dengan tidak adanya suara atau tidak adanya interaksi antara konselor dan konseli dalam proses konseling.

Adapun tujuan digunakannya teknik diam dalam konseling adalah menunggu dan memberikan kesempatan kepada konseli untuk berpikir sebelum mengekspresikan dirinya, menunjang perilaku menghampiri, memberikan kesempatan kepada konseli untuk beristirahat atau mengorganisasi pesan, menunjang sikap empati konselor kepada konseli agar konseli bebas berbicara, mendorong konseli atau dan memberikan motivasi kepada konseli untuk mencapai tujuan konseling. Teknik diam ini dapat dilakukan oleh konselor maupun konseli.(

14. Membuat simpulan akhir

Teknik komunikasi dalam konseling yang terakhir adalah membuat simpulan akhir dari pembicaraan yang telah dilakukan antara konselor dan konseli. Pada umumnya, simpulan yang dibuat oleh konselor meliputi perasaan konseli setelah konseling, pematangan rencana konseli, pemahaman konseli, dan berbagai pokok pembicaraan yang akan dilakukan pada konseling berikutnya jika dibutuhkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

               Berdasarkan uraian pada pembahasan laporan ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:

  1. UPT Bimbingan Konseling dan Pembinaan karir sesuai dengan fungsinya perlu melakukan koordinasi dengan program studi yang ada di lingkungan Universitas Mataram dalam rangka kegiatan yang berkaitan dengan pembimbingan akademik mahasiswa..
  2. Ada beberapa orang dosen yang bersedia membantu untuk menyelenggarakan konseling bagi mahasiswa.
  3. Kegiatan secara umum berjalan dengan lancar, karena seluruh tahapan pelaksanaan pelatihan dilaksanakan dengan baik.

4.2 Saran-saran

              Koordinasi antara UPT. BKPK dengan program studi di masing-masing fakultas yang berkaitan dengan pembimbingan akademik mahasiswa perlu dtingkatkan lagi.  Dengan terjalinnya koordinasi yang baik,  diharapkan Dosen Penasehat Akademik dapat memberikan bimbingan yang optimal kepada mahasiswanya. sehingga mereka dapat menyelesaikan studi dengan tepat waktu.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *